Jakarta … I’m coming! (Episode II – The End)
Episode yang lalu …
Jadi, kami bertiga lah yang pertama sampai di asrama. Beberapa hari kemudian barulah dua teman kami yang dari Jogjakarta nyusul ke Jakarta. Dan akhirnya kami berlima pun berkumpul.
Keesokan harinya merupakan hari pertama kami menjalankan tugas. Kebetulan jadwal diklat kami dari Senin sampai Jum’at, makanya kami lebih banyak menggunakan Sabtu dan Minggu buat jalan-jalan ke kota. Untuk ke kota kami biasa pake 2 alternatif, kalo gak naek kereta api ya naek angkot.
Berhubung belom pernah ke Jakarta, aku ‘ngekor’ aja teman-teman ku yang udah pernah ‘berkelana’ ke sana. Banyak peristiwa atau pengalaman baru yang aku dapat dalam perjalanan ke kota.
Kereta api, ya… benda panjang yang biasa aku liat di tipi atau media lainnya udah dapat aku rasakan gimana nyaman berada di dalamnya. Kereta api alternatif paling cepat ke kota, karena jarang ada hambatan yang kita dapat di dalam perjalanannya. Tapi walaupun demikian, kita musti kudu waspada di dalamnya. Jangan sampai molor atau pun terlalu terpesona sama yang ‘bening-bening’ (cowo atau cewe cakep gitu loh). Tetap siaga, tahan napas, mata gak kedip-kedip … but jangan lama-lama tahan napas nya ntar bisa bengek lagi .. hihihi … just kidding. Gak sampe segitu tegangnya kok.
Kenapa kita musti waspada? Pencurian, pencopetan, penodongan atau tindak kriminal lainnya paling sering terjadi di dalam sana. Sampai-sampai masuk Top 10 Tindakan Kriminal Terfavorit :D hehehe.
Jujur, aku sendiri pernah jadi korban pencopetan atau pencurian. Aku ingat kejadian malam hari saat perjalanan pulang dari Tanah Abang menuju asrama (daerah Srengseng Sawah, Jaksel). Karena kebetulan temanku banyak beli belanjaan buat keluarganya di Banda Aceh, jadi sebelah tanganku ngebantu megang plastik belanjaannya dan yang sebelahnya lagi megang besi pegangan tepat di atas kepala ku … biar gak jatuh gitu.
Sedikit pun aku gak curiga ama orang-orang disekeliling ku. Karena aku perhatikan gak ada satu orang pun berpenampilan mencurigakan. Malah ada yang sempat senyum pada ku … bukan cewe loh. Satu hal lagi yang sangat mendukung dan melancarkan aksi kriminal itu ialah malam itu penumpang dalam kereta api itu padaaat banget.
Nah, disinilah saat-saat dimana makhluk terkutuk yang bernama SETAN itu mulai menggoda manusia. Bukan pencopet aja loh yang digoda, tapi orang biasa seperti aku pun bisa juga digoda. Lho kok bisa? Ya, disaat penumpang yang padat berdesakan itu lah pikiran kita mulai kotor. Pernah aku bersenggolan dengan penumpang perempuan, abis gimana lagi coba kalo padat gitu kan pasti kesenggol badannya (aahh … alasan aja kamu An, mau nyari aman ya!) Sampai-sampai dia sempat bilang “Awas, jangan pegang pinggang”.. Tuh, gimana gak malunya dikatain kayak gitu. Akhirnya dengan wajah tak berdosa kupalingkan pandangan ku ke arah lain.
Oya, sambung lagi bagian pencopetan tadi … setelah turun di stasiun aku ngerasa kantong celana ku yang sebelah kanan kok terasa kosong gitu. Karena memang biasanya hp aku masukin ke kantong kanan. Yang anehnya lagi, kok aku gak ngerasa ada yang ngambil tu hp padahal aku pake celana jeans. Aku akui tu maling udah prof banget, rupanya SETAN berhasil melatih dia dengan prof kali ya.
Aku panik banget malam itu, langsung aku nelpon keluarga di Banda Aceh buat ceritain kejadian itu supaya mereka gak kebingungan nantinya saat menghubungi aku. Saat itu juga aku nelpon dosen ku buat minta maap karena kebetulan SIM Card yang ada dalam hp itu punya beliau yang aku pinjam sebelum berangkat berhubung Sim Card nya bisa bebas roaming. Penasaran aku nyoba call ke no hp ku, rupanya ada yang jawab “Maaf, nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau berada diluar jangkauan … cobalah beberapa saat lagi”… sudah kuduga kalo ‘beliau’ yang bakal ngejawab!
Di saat inilah keikhlasan ku di uji. Aku harus ikhlas hp ku dimiliki orang lain dan meyakinkan diriku kalo itu titipan Allah pada ku dan mungkin hp itu memang bukan rejeki buatku. Walaupun pertamanya agak berat aku terima, karena uang yang aku pake buat beli hp itu ialah hasil dari obyekan kecil-kecilan plus honor mengajar yang udah sekian lama aku kumpulin.
Yah, mungkin ini ‘sambutan’ awal ibukota Jakarta yang paling tidak mengenakkan buat pendatang baru seperti aku kali ya. Semoga tidak yang untuk kedua kalinya. Amin.
Hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa ini diantaranya; apapun yang Allah titipkan kepada kita hanyalah sementara … jadi janganlah kita terlalu mencintai apa yang dititipkan Nya kepada kita melebihi cinta kita kepada Nya dan kita juga harus udah siap dan ikhlas jika suatu saat Dia mengambil nya kembali walau seberat apapun itu dan yakin bahwa Dia akan memberikan yang lebih baik dari sebelumnya. Sesungguhnya Dia Maha Tahu mana yang terbaik buat hamba Nya. (pembaca: Eleh eleeeh … ngomongnya kayak ustad-ustad di sinetron Rahasia Ilahi aja nih? Aan: gakpapa deh asal jangan kayak belatungnya di Rahasia Ilahi aja, na’udzubillahimindzalik)
Hari demi hari aku lewati bersama-sama teman-teman ku di Jakarta, hingga saat waktu tugas selesai … kami pun kembali dengan kenangan yang gak terlupakan selama di Jakarta. Sebenarnya masih banyak kisah-kisah nyata lainnya yang mau aku ceritakan. Berhubung kontrak kerja buat nulis hanya dua episode untuk cerita ini, jadi aku cukupkan sampai disini ya (hehe bcanda kok).
Makasih buat Anda yang udah ngikutin dari episode I sampai II ini, mudah-mudahan bermanfaat buat aku dan Anda semua.
*** The End ***
Episode yang lalu …
Jadi, kami bertiga lah yang pertama sampai di asrama. Beberapa hari kemudian barulah dua teman kami yang dari Jogjakarta nyusul ke Jakarta. Dan akhirnya kami berlima pun berkumpul.
Keesokan harinya merupakan hari pertama kami menjalankan tugas. Kebetulan jadwal diklat kami dari Senin sampai Jum’at, makanya kami lebih banyak menggunakan Sabtu dan Minggu buat jalan-jalan ke kota. Untuk ke kota kami biasa pake 2 alternatif, kalo gak naek kereta api ya naek angkot.
Berhubung belom pernah ke Jakarta, aku ‘ngekor’ aja teman-teman ku yang udah pernah ‘berkelana’ ke sana. Banyak peristiwa atau pengalaman baru yang aku dapat dalam perjalanan ke kota.
Kereta api, ya… benda panjang yang biasa aku liat di tipi atau media lainnya udah dapat aku rasakan gimana nyaman berada di dalamnya. Kereta api alternatif paling cepat ke kota, karena jarang ada hambatan yang kita dapat di dalam perjalanannya. Tapi walaupun demikian, kita musti kudu waspada di dalamnya. Jangan sampai molor atau pun terlalu terpesona sama yang ‘bening-bening’ (cowo atau cewe cakep gitu loh). Tetap siaga, tahan napas, mata gak kedip-kedip … but jangan lama-lama tahan napas nya ntar bisa bengek lagi .. hihihi … just kidding. Gak sampe segitu tegangnya kok.
Kenapa kita musti waspada? Pencurian, pencopetan, penodongan atau tindak kriminal lainnya paling sering terjadi di dalam sana. Sampai-sampai masuk Top 10 Tindakan Kriminal Terfavorit :D hehehe.
Jujur, aku sendiri pernah jadi korban pencopetan atau pencurian. Aku ingat kejadian malam hari saat perjalanan pulang dari Tanah Abang menuju asrama (daerah Srengseng Sawah, Jaksel). Karena kebetulan temanku banyak beli belanjaan buat keluarganya di Banda Aceh, jadi sebelah tanganku ngebantu megang plastik belanjaannya dan yang sebelahnya lagi megang besi pegangan tepat di atas kepala ku … biar gak jatuh gitu.
Sedikit pun aku gak curiga ama orang-orang disekeliling ku. Karena aku perhatikan gak ada satu orang pun berpenampilan mencurigakan. Malah ada yang sempat senyum pada ku … bukan cewe loh. Satu hal lagi yang sangat mendukung dan melancarkan aksi kriminal itu ialah malam itu penumpang dalam kereta api itu padaaat banget.
Nah, disinilah saat-saat dimana makhluk terkutuk yang bernama SETAN itu mulai menggoda manusia. Bukan pencopet aja loh yang digoda, tapi orang biasa seperti aku pun bisa juga digoda. Lho kok bisa? Ya, disaat penumpang yang padat berdesakan itu lah pikiran kita mulai kotor. Pernah aku bersenggolan dengan penumpang perempuan, abis gimana lagi coba kalo padat gitu kan pasti kesenggol badannya (aahh … alasan aja kamu An, mau nyari aman ya!) Sampai-sampai dia sempat bilang “Awas, jangan pegang pinggang”.. Tuh, gimana gak malunya dikatain kayak gitu. Akhirnya dengan wajah tak berdosa kupalingkan pandangan ku ke arah lain.
Oya, sambung lagi bagian pencopetan tadi … setelah turun di stasiun aku ngerasa kantong celana ku yang sebelah kanan kok terasa kosong gitu. Karena memang biasanya hp aku masukin ke kantong kanan. Yang anehnya lagi, kok aku gak ngerasa ada yang ngambil tu hp padahal aku pake celana jeans. Aku akui tu maling udah prof banget, rupanya SETAN berhasil melatih dia dengan prof kali ya.
Aku panik banget malam itu, langsung aku nelpon keluarga di Banda Aceh buat ceritain kejadian itu supaya mereka gak kebingungan nantinya saat menghubungi aku. Saat itu juga aku nelpon dosen ku buat minta maap karena kebetulan SIM Card yang ada dalam hp itu punya beliau yang aku pinjam sebelum berangkat berhubung Sim Card nya bisa bebas roaming. Penasaran aku nyoba call ke no hp ku, rupanya ada yang jawab “Maaf, nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau berada diluar jangkauan … cobalah beberapa saat lagi”… sudah kuduga kalo ‘beliau’ yang bakal ngejawab!
Di saat inilah keikhlasan ku di uji. Aku harus ikhlas hp ku dimiliki orang lain dan meyakinkan diriku kalo itu titipan Allah pada ku dan mungkin hp itu memang bukan rejeki buatku. Walaupun pertamanya agak berat aku terima, karena uang yang aku pake buat beli hp itu ialah hasil dari obyekan kecil-kecilan plus honor mengajar yang udah sekian lama aku kumpulin.
Yah, mungkin ini ‘sambutan’ awal ibukota Jakarta yang paling tidak mengenakkan buat pendatang baru seperti aku kali ya. Semoga tidak yang untuk kedua kalinya. Amin.
Hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa ini diantaranya; apapun yang Allah titipkan kepada kita hanyalah sementara … jadi janganlah kita terlalu mencintai apa yang dititipkan Nya kepada kita melebihi cinta kita kepada Nya dan kita juga harus udah siap dan ikhlas jika suatu saat Dia mengambil nya kembali walau seberat apapun itu dan yakin bahwa Dia akan memberikan yang lebih baik dari sebelumnya. Sesungguhnya Dia Maha Tahu mana yang terbaik buat hamba Nya. (pembaca: Eleh eleeeh … ngomongnya kayak ustad-ustad di sinetron Rahasia Ilahi aja nih? Aan: gakpapa deh asal jangan kayak belatungnya di Rahasia Ilahi aja, na’udzubillahimindzalik)
Hari demi hari aku lewati bersama-sama teman-teman ku di Jakarta, hingga saat waktu tugas selesai … kami pun kembali dengan kenangan yang gak terlupakan selama di Jakarta. Sebenarnya masih banyak kisah-kisah nyata lainnya yang mau aku ceritakan. Berhubung kontrak kerja buat nulis hanya dua episode untuk cerita ini, jadi aku cukupkan sampai disini ya (hehe bcanda kok).
Makasih buat Anda yang udah ngikutin dari episode I sampai II ini, mudah-mudahan bermanfaat buat aku dan Anda semua.
*** The End ***




